.
.
.
Jadi ini semua terjadi saat tahun 2002, tepat 2 tahun kelahiran seorang anak laki-laki bernama Lee Donghyuck.
Pagi hari yang cerah, dia bermain dengan mainanya dilantai karpet yang lembut, dan kedua orang tuanya yang mengobrol tidak jauh darinya diiringi wangi teh yang segar.
suara-suara kecil terdengar darinya yang memasang muka serius dengan mobil kebakaran ditanganya.
“Wiii Wooo Wiii Wooo.”
Tawaan kecil terdengar dari orang tuanya, Donghyuck sibuk memainkan mainanya.
Hari yang cerah dan ceria di rumah Lee.
Lalu terdengar suara ketukan terdengar, Ayah menaruh kopinya di meja dapur lalu berjalan menuju arah pintu, dia membuka pintunya dan melihat seorang pria dengan jaket panjang dan senyuman ramah di wajahnya.
“Hyuck?” Ibunya memanggilnya, menghentikan gerakan mobil kebakaranya, lalu menoleh ke Ibunya.
“Aigooo~ lihat anak Ibu tampan sekali hari ini” Ibunya menangkup wajahnya dan memainkan kedua pipinya, yang membuat Donghyuck tertawa.
“Hyuck, Kau mau bermain dengan Jaemin nanti?”
Matanya berbinar mendengar nama familiar. “Nana?”
“Yap, Nana.”
Donghyuck berteriak kecil, dia senang akan bertemu dengan temanya, lalu dia ingat satu hal.
“Nono juga?”
Ibunya tertawa, lalu mengelus rambutnya. “Tentu saja Jeno ikut.”
Donghyuck berteriak kecil lalu berdiri, mengambil tangan ibunya sambil berjalan kearah pintu. “Ma! Ma!” dia menarik tangan ibunya.
Ibunya tertawa lalu mengangkatnya ke gendonganya.
“Tenang sayangku, ganti baju dulu baru kita kesana ok?”
“Okee.” Donghyuck mencoba turun dari gendongan ibunya, saat diturunkan dilantai dia langsung berlari sempoyongan ke kamarnya.
“Hati-hati Sayang.”
“Sayang?” Ibunya yang awalnya mengikuti langkah Donghyuck berhenti saat Ayah memanggilnya, Lalu Ibu menghampiri Ayah, yang dari tadi berbicara dengan orang didepan pintu.
Donghyuck tidak sabar ingin kerumah temanya.
Dia berjalan kearah kasurnya, mengambil tas kartunya, dan memasukan segala mainanya yang bisa dimasukan kedalam tasnya sampai dia puas, sekarang tasnya nyaris penuh.
Dia membuka lemari yang ada di bawah kasur, mengambil baju yang ada di paling atas.
Menganti celana cukup mudah, membuka kancing piyamanya walau lama tapi Donghyuck bisa, saat dia memasukan kaos ke kepalanya dan tersangkut disitu.
Donghyuck mencoba menarik bajunya tak kunjung melewati kepalanya, melepaskanya pun tidak bisa, akhirnya dia memanggil Ibunya. “Ma.”
Belum ada jawaban
“Ma!”
Masih tidak ada jawaban
Donghyuck pun mencoba berjalan keluar, meraba-raba sekitar dengan tangan pendeknya.
DUK
“Aww~” Donghyuck berjongkok memegang jidatnya sakit, dia mendengar tawaan didepanya.
“Pa!”
Masih tertawa kecil. “Kenapa kau bisa tersangkut begini?”
Donghyuck merasakan tangan besar dan hangat memegang kepalanya dan satu lagi diujung kerah yang tersangkut dijidatnya
Dengan mudah Ayah memperbaiki baju Donghyuck, tertawa kecil saat anaknya cemberut kearahnya.
Gemas dengan anaknya dia mengacak-acak rambut Donghyuck dan memainkan pipinya yang masih penuh dengan lemak bayi
“Uuhhh lihat anak ayah sudah bisa pakai baju sendiri.” Dia makin memainkan pipi Donghyuck saat anaknya makin cemberut.
“Pa!” Donghyuck mencoba melepaskan tangan Ayahnya dari pipinya, tapi Ayahnya makin tersenyum lebar.
“Hei berhenti, pipinya sudah merah.” Ibu datang dan memukul kepala Ayah pelan dengan kertas coklat yang dia bawa.
Ayah pun berhenti namun masih memegang pipinya. “Sayang lihat ini, tanganya kecil sekali, kenapa dia pegang tanganku, kenapa kecil sekali?”
Sekarang Ayah memainkan tangan nya
“Itu karena dia ingin kau berhenti sayang dan anak enam tahun memang kecil.” Ibu memutar bola matanya, tapi nada suaranya tetap halus dan sayang.
“Ini lihat ini.” Ibu menyodorkan kertas ke Ayah dan dengan lembut menarik Donghyuck kearahnya, merapihkan rambutnya yang diacak-acak.
“Kau menyetujui ini?” Ayah duduk di kasur kecil Donghyuck sambil membaca kertas ditanganya.
“Tidak ada alasan untuk menolak, gratis dan hanya perlu mengisi alamat dan nomor telefon.”
“Dia tidak meminta data personal kita?”
“Tidak, katanya dia agen khusus perumahan kita jadi dia hanya perlu tahu dimana kita tinggal saja.”
“Kalau ada yang pindah?”
“Entahlah, dia bilang hanya perlu ini, kalau kita percaya dengan perusahaanya kita bisa menghubungi dia lagi dan menjadi member full yang ada kelebihan lagi tapi aku tidak bertanya.”
Ayah mengerutkan keningnya.
Ibu hanya mengangkat pundaknya.
“Nah, sudah siap.” Ibu tersenyum melihat Donghyuck yang balik tersenyum kearahnya.
Anaknya imut sekali, dia ingin mencubit pipinya tapi nanti anaknya kesal denganya.
Tetap dia cubit karena siapa yang bisa menahan pipi gembil itu?
Yang pasti bukan dia, dan bukan juga suaminya yang ikutan ingin mencubit pipi anaknya namun ditakis anaknya yang cemberut.
“Udahh.”
Ibu tertawa kecil menarik tanganya beralih menjadi mengelus kepalanya pelan, mengabaikan suaminya yang cemberut dibelakang, meringkuk di kasur kecil Donghyuck dengan badan dewasanya.
Dia menghela nafasnya, ‘Kapan dia jadi dewasa.‘
Hal yang membuat dia semakin sayang ke suaminya.
.
.
Keluarga kecil itu berkumpul di ruang tamu, Donghyuck di pangkuan Ayahnya yang sedang menonton berita dan Donghyuck yang memperhatikan TV karena terkesan dengan warna merah dan biru, kerumunan orang-orang yang ditampilkan, lapangan hijau dengan orang dan bola di kakiknya.
Ibu mengobrol dengan ibu Jaemin di telefon, dia duduk di meja dapur sambil meminum tehnya, beberapa kali tertawa lalu berbisik-bisik.
Donghyuck melihat tampilan didepanya yang menunjukan satu orang dengan banyak stik hitam dekat mulutnya, Donghyuck melihat benda itu aneh namun orang didalam TV berbicara dengan biasa, apa itu?
“Pa-“
Lalu layarnya berganti menjadi satu pria yang duduk meringkuk.
“Sayang, kemarilah.”
Ayah keburu memotong perkataanya, dia melihat Ayahnya seperti takut? kenapa? Donghyuck menahan pertanyaanya dan kembali melihat TV.
“Ada apa?” Ibu menghampiri suaminya setelah melihat ekspresinya dia memutuskan percakapanya dengan ibu Jaemin, menaruh tanganya di pundak suaminya.
“Lihat ini.” Ayah membesarkan volume TV, mereka mendengarkan apa yang dibicarakan diTV minus Donghyuck.
Orang di TV berbicara tidak jelas, perkataan yang terpotong-potong dia sibuk membaca kertas yang berserakan di meja namun wajahnya jelas terlihat pucat.
Kita.. Kita sedang menkorfimasi.. iya setelah cahaya terang itu terdengar ledakan.. kita mencoba menghubungi.. sepertinya kita putus kontak dengan pos yang berhadapan langsung.
.. Tapi kita punya.. laporan.. saya ulangi kita punya laporan dari kantor utama..
..
..
Astaga.
Orang didalam TV memegang keningnya lalu siaran itu berhenti, tidak diganti iklan atau semacamnya hanya suara tuuut mengisi ruangan yang tiba-tiba hening.
“Apa?” Ibu melihat ke Ayah, yang masih diam terpaku.
Lalu mereka mendengar suara-suara orang rusuh diluar, berlarian melewati rumah mereka, Ibu melihat ke jendela dan melihat kearah langit yang seperti ada petir di cuaca cerah seperti ini.
“Sayang pegang Donghyuck, kita harus pergi.” Ibu berbalik dengan suara panik.
“Ada apa?” Ayah berdiri sambil menggendong Donghyuck.
“Nanti aku jelaskan, kita harus pergi ke brangkas sekarang!” Ibu berjalan kearah pintu, Ayah dan Donghyuck mengikutinya dan pergi keluar.
Mereka berjalan cepat melewati orang-orang yang sibuk packing, panik, kebingungan, beberapa lari melewati mereka.
Suara bising terdengar diatas mereka, semua orang melihat keatas, helikopter besar melewati mereka namun entah kenapa terbang rendah.
Ibu melihat kearah Ayah lalu mulai berlari, Ayah mengeratkan Donghyuck di pelukanya dan mulai berlari mengikutinya, langkah mereka diikuti yang lain.
Mereka berbelok dari jalanan beraspal perumahan ke jalan setapak dari tanah yang turun ke jembatan kecil melewati kali kecil.
Ayah dan Ibu melambat perlahan agar tidak terjatuh di turunan yang cukup tajam namun tetap memasang jalan cepat.
Mereka melewati orang-orang yang ada di pinggir jalan entah itu mengecek koper, atau menelfon seseorang sambil berteriak.
Melewati jembatan mereka kembali berlari dan jalanan itu mulai menanjak sampai diujung ada pagar besi yang dijaga tiga orang penjaga dengan seragam dan senjata, dan orang-orang yang berkerumun.
Mereka sampai ditempat dan melihat orang yang berbicara dengan Ayah pagi ini berdebat dengan penjaganya.
“Tidak mungkin! Aku ini Sunrise! Aku Agenya-” orang itu mengangkat kedua tanganya saat salah satu penjaga menodongkan senjatanya tepat ke depan wajahnya. “Oke oke.” Dia mengumpat, berbalik dan berlari dari arah mereka datang.
“Yang memiliki program, maju kedepan! selain itu, KEMBALI PULANG!” penjaga baru datang dengan papan di tanganya.
Ibu menghampiri mereka. “Kita ada dalam list.”
Penjaga itu melihat Ibu dan pasang Ayah-anak dibelakang. “Balita.. pria dewasa.. wanita dewasa, OK silahkan masuk.” Penjaga itu bergeser kesamping mempersilahkan mereka masuk.
Ibu dan Ayah langsung lari masuk, dipimpin penjaga berbadan lebih kecil dari yang menjaga gerbang mereka berlari mengabaikan suara penjaga yang menahan orang-orang yang berteriak protes
“HEY! DIAM DITEMPAT!”
“KENAPA MEREKA DIBIARKAN?!”
“BIARKAN KAMI MASUK!”
Mereka melewati kumpulan barang-barang bekas yang mengumpul, tempat ini jika dilihat dari orang luar perumahan hanya tempat untuk membuang barang bekas namun orang yang tinggal di perumahan ini lebih dari dua tahun atau yang punya koneksi tahu bahwa disini ada brangkas yang disediakan.
Itulah kenapa biaya rumah disini mahal walau lumayan jauh dari perkotaan, kenapa orang disini kebanyakan keluarga, orang tua, orang yang jelas punya posisi dari cara bicaranya.
Mereka berlari lumayan jauh, mereka melihat helikopter yang melewati mereka mendarat didepan mereka, angin dari baling-baling tersebut membuat debu-debu bertebangan, Ayah menempatkan kepala Donghyuck ke dadanya, mereka berlari melewati helikopter itu.
Diujung mereka melihat kerumunan berdiri di atas besi biru.
“Masuk kedalam lingkaran!” Penjaga itu berlari kearah pos kecil, Ayah dan Ibu menghampiri kerumunan dan melihat beberapa wajah familiar.
“Jihye!” Wanita dengan balita di genggaman nya menghampiri mereka, dia tersenyum lega menunjukan senyuman indahnya. “Syukurlah kalian disini.”
Ibu balas tersenyum namun belum sempat membalas cahaya seketika mengagetkan mereka, diikuti jamur raksasa diujung namun terlalu dekat untuk merasa nyaman, langit menjadi oranye dengan angin yang tiba-tiba muncul dan tanah yang berguncang.
Semua berteriak kaget, melihat penampakan didepan mereka.
“SEKARANG! LAKUKAN SEKARANG!” Penjaga yang mengantarkan mereka berteriak ke orang yang ada dalam pos, lingkaran dibawah mereka mulai bergetar dan bergerak kebawah.
Orang-orang panik saat ledakan terdengar, terlihat jelas dari ledakan mendorong awan-awan dengan hawa oranye yang keluar dari ledakan seperti menghampiri mereka.
“Oh astaga!”
“Bisa lebih cepat tidak?!”
“Kenapa benda ini lama sekali!”
“Ya tuhan.”
Lalu angin kencang hangat menuju panas penuh debu menghampiri mereka, mereka otomatis meringkuk, Ayah menempatkan Dongyuck kedalam pelukanya, semua meringkuk dengan beberapa yang mengumpat atau menangis.
Hanya sebentar namun terasa lama bagi mereka akhirnya angin itu berhenti, mereka masih meringkuk, Jihye melepas tangan yang melindungi kepalanya dan menongak keatas, melihat lubang itu tertutup.
Jihye pun berdiri, yang lain merasakan ada yang berdiri mencoba mengikuti langkahnya. Mereka semua melihat keatas, melihat gerakan-gerakan mesin seiring mereka turun kebawah.
Pintu itu tertutup lapis satu yang menutup angin panas tadi namun ada pasir halus yang tembus, lalu lapis dua dengan jaring-jaring kasar dan halus, lapis tiga dan empat besi halus yang menutup berlawanan arah lalu lapis lima yang tebal dan bewarna sama dengan lapisan satu.
Hening.
Hanya suara mesin dibawah mereka yang masih membawa mereka jauh lebih dalam. Jihye mendekati suami dan anaknya.
“Kau baik-baik saja, Yeobo?”
“Hmm.” Jihye membalas sambil mengelus kepala Donghyuck.
“Anak kita pintar.” Lee Hyunsung, Suaminya tersenyum lalu memberi kecupan ke dahi Donghyuck dan Istrinya.
.
.
Setelah beberapa menit mereka turun kebawah akhirnya mesin itu perlahan berhenti, mereka menghadap ke gerbang besi jaring-jaring depan mereka.
Ada petugas-petugas dan pria dengan jaket putih Panjang dibalik gerbang, saat gerbang itu terbuka dia menyambut mereka.
“Selamat datang di Vault-Tech 12! Namaku Han Myungoh, aku yang akan membantu kalian selama disini jadi jangan sungkan untuk mencariku.” Dia terseyum dengan senyuman bisnisnya.
“Aku tahu kalian lelah jadi mohon kerja samanya dalam protocol yang disediakan.” Dia membuat gestur silahkan ke orang didepanya, orang itu pun berjalan dan yang lain mengikutinya.
Jihye memperhatikan kemana mereka pergi, tangga besi yang mengarah ke ruangan dimana banyak petugas dengan seragam biru kuning menunggu mereka.
Para penjaga itu menyambut dengan muka ramah dan mereka memegang alat ukur dan juga seragam yang sama dengan mereka.
“Pertama, kita akan memberikan kalian seragam sesuai dengan protocol kami, tenang saja baju ini nyaman dipakai dan kita akan menyesuaikan dengan badan anda kaena kenyamanan kalian adalah yang utama bagi kami.”
Han Myungoh berjalan ke dua meja. ”Tolong buat barisan berdasarkan kelamin kalian, lalu anak-anak kearah sini.” Dia menunjuk ke petugas perempuan yang memegang beberapa pasang baju seragam ukuran kecil.
Jihye mengambil ukuranya sementara Hyunsung menurunkan Donghyuck lalu berlutut. “Hey nak, kau baik-baik saja?”
“En.” Dia mengangguk.
“Baguslah.” Hyunsung tersenyum dan mengusap kepalanya. “Kau bisa menjadi anak baik untuk Ayah dan Ibu?”
“… Bisa.”
“Anak pintar, aku akan antar kau kesana untuk mengambil baju, kau hanya menunggu dengan baik dengan Jaemin dan Jeno, Oke?”
“En.”
Hyunsung mengecup dahinya lalu dia mengambil tangan kecilnya dan berjalan kearah meja khusus anak itu.
“Ah, Hyung” Lee Gilyong, Ayah Jeno menyapanya, Hyunsung balik menyapanya dia juga menyapa Sohyoon yang berbicara dengan petugas sambil mencoba ukuran bajunya ke Jaemin.
“Lihat Jeno-ah, ada Hyuckie juga disini, kau tidak perlu takut, Ayah akan kembali.”
Jeno awalnya tidak ingin melepas genggamanya dari lengan baju Ayahnya, namun saat dia melihat kearah Donghyuck lalu Jaemin, Lalu Donghyuck lagi dan mengulang sampai beberapa kali barulah dia melepas genggamanya.
Mukanya tetap masih cemberut.
Ekspresi Gilyong langsung sumringah. “Anak pintar, Ayah akan cepat tunggu sebentar.” Dia berlari dan langsung berbaris.
Hyunsung tertawa melihat teman nya lalu dia merasakan tanganya yang memegang Donghyuck tertarik, dia melihat kearah anaknya yang menarik Jeno kesampingnya lalu berbicara entah apa tetapi wajah cemberut Jeno menghilang karena mencoba fokus apa yang dibicarakan teman nya ini.
Donghyuck bicara sepertinya bahkan Jihye suka pusing apa yang dibicarakanya walau pernikahan mereka hampir satu decade.
Jika istrinya Lelah namun dia tetap mengoceh, dia sering membungkamnya entah dengan lemparan bantal, majalah, atau dengan bibirnya.
Yang terakhir itu sangat jarang terjadi, Lebih sering saat Jihye mengancam lewat matanya akan melempar teh herbal yang dia minum kearahnya.
Hyunsung pernah merasakan panasnya teh herbal.
Dan Istrinya beberapa saat kemudian memberinya obat memar dan lain-lain tanpa berkata apa-apa.
Kalau itu membuat istrinya jadi perhatian kepadanya, dia tidak masalah dilempar herbal tiap hari.
Dia tidak sengaja menyuarakan pikiranya dan malam itu dia tidur di sofa.
Hyunsung tersenyum makin lebar melihat Jeno yang makin mengerutkan keningnya, dia masih mendengarkan Donghyuck yang makin antusias bahkan melepas tangan dari nya dan fokus membuat gestur-gestur sambil bebicara terus tidak peduli dengan Jeno yang berusaha keras mengerti apa yang dia ucapkan.
Hyunsung bangga terhadap anaknya.
.
.
Setelah memberi ukuran baju Donghyuck ke petugas dan memastikan dia jadi anak baik, Hyunsung mengambil bajunya, kebetulan antrian sudah sepi, dia langsung mencoba bajunya.
Dia masuk ke bilik shower yang bersekat-sekat namun tidak ada pintu, dia mengganti bajunya, meringis sedikit saat memegang kulitnya yang lengket dengan keringat.
Bajunya, tidak disangka mudah dipakai, walau kulitnya yang lengket baju itu tidak menempel, dan memeluk badanya dengan sempurna, tidak ketat namun tidak gombrong seperti kaus.
Yang kurang hanya warnanya yang membuatnya sakit mata.
’Tidak usah pilih-pilih.’ pikirnya
Dia keluar dari bilik dan melihat di meja anak-anak sudah kosong, ada petugas yang menghampirinya.
“Ayo pak, kutunjukan dimana kalian beristirahat.”
Hyunsung mengangguk dan mengikuti petugas itu, dia berjalan ke pintu diujung ruangan yang ada lampu hijau diatasnya saat petugas itu mendekat otomatis pintu itu terbuka dan menunjukan lorong kecil yang lebih panas dari ruangan sebelumnya.
Ruangan ini dipenuhi dengan mesin yang bergerak dan hanya dibatasi dengan pagar besi, Hyunsung bisa saja memegang gerigi bergerak itu kalau ingin.
“Tolong jangan sentuh.” Seperti membaca pikiranya, petugas itu berbicara.
Hyunsung mengembalikan perhatianya, namun cukup sulit karena dia bekerja di bagian Teknik jadi hal ini membuatnya bersemangat.
“Mesin ini yang mengendalikan pintu diatas, biasanya bagian ini tidak panas seperti ini tapi karena baru saja dipakai jadi panas seperti ini.”
“Mesin penting ini ada disini? Tanpa perlindungan apapun?”
“Ya Sunrise sudah berjalan lumayan lama dengan budget yang pas-pasan saat awal dibangun, ini adalah inovasi pertama Sunrise, mesin ini bisa bekerja walau tidak se-efektif mesin-mesin dilantai selanjutnya, tapi ini berjalan dan apa yang bisa dibeli Sunrise pada saat itu.” Petugas itu mengangkat bahunya.
Hyunsung megangguk
“Tapi, tidak khawatir mesin ini akan rusak?”
“Vault 1-45, memiliki mesin ini karena kita adalah vault yang dibangun pada masa pertama sunrise dibuat, vault seri selanjutnya sudah diganti dengan teknologi terbaru, tentu vault ini juga punya di lantai bawah, hanya saja ini..” Petugas itu mengarahkan tanganya dan memasang muka aneh. “memberi rasa estetik? Bukan bahasaku tapi bos yang bilang.”
“Huh? Bosmu menarik.”
“Ah, kau suka mesin juga?”
“Iya, kelihatan jelas ya?”
“Tidak, hanya orang mesin saja bilang bos menarik.”
Mereka tertawa kecil, melanjutkan ke ruangan selanjutnya.
Hyunsung disapa lorong putih, pada saat mereka masuk pintu keluar dan masuk tertutup.
“Jangan kaget, ini hanya sterilisasi.”
Setelah petugas bilang itu, Asap? Uap keluar dari lubang atap rasanya dingin, seperti basah namun saat dia menyentuh wajahnya, wajahnya kering, dan matanya tidak perih saat terkena langsung tadi menandakan setidaknya tidak ada alcohol di cairan apapun tadi.
“Jangan tanya aku, kalau kau penasaran kau bisa bertanya ke ilmuwan kita nanti.” Petugas itu berkata saat melihat wajah Hyunsung.
“Aku sangat mudah dibaca ya?”
“Tidak juga, aku harusnya punya diploma psikologi akhir tahun ini.”
“Ah, sudah kena tugas akhir?”
“Belum, tetap saja uang dan jerih payah mengejar dosen sialan itu sia-sia, kalau begini aku pakai uangnya untuk jalan-jalan.”
Mereka bercakap-cakap hingga mereka masuk ke lift, lift besi yang ada roda gerigi diujung yang tidak ditutup
Mereka menunggu dalam diam, Hyunsung memperhatikan gerakan gerigi-gerigi tersebut dan suara-suara yang keluar dari gerakan lift ini.
Perlahan lift berhenti, dan lampu hijau diatas pintu lift menyala lalu membuka pintu dan Hyunsung disapa kehidupan.
Jika saat pengambilan baju seragam orang-orang masih terlihat ketakutan.
Sekarang di wajah mereka terpasang lega dan bahagia, ada yang kebingungan namun senyum di wajahnya tetap tertera.
Petugas itu melangkah keluar dari lift, Hyunsung mengikutinya perlahan, melihat pemandangan yang tidak biasa ini.
Area ini seperti barrack tentara namun terlalu kekeluargaan untuk bisa dibilang barrack, didepanya terdapat sofa-sofa diatas karpet dengan meja kecil ditengah, dikananya ruang kosong yang sekarang diisi anak-anak bermain, dan diujung terdapat pembatas yang mengarah ke kumpulan kasur tingkat.
Dia melihat Istrinya keluar dengan Donghyuck di genggamanya.
Hyusung otomatis menghela nafas lega.
Petugas itu tersenyum melihat reaksi Hyunsung, “Selamat datang di Vault 12, kenyamanan anda priotas nomor satu kami, semoga kalian menikmati tinggal disini.”