.
.
.
Jflo_Starlight
.
.
.
[7]
Setelah fiasco tadi bakpau-Van mati dengan sendirinya, meninggalkan Taehyung dengan teman merah barunya, Tata.
“Ta?”
Taehyung memperhatikanya yang balik memperhatikanya, dia menunduk untuk mengambil Po*kynya yang terjatuh.
“Poki?” Taehyung menawarkan.
Teman kecilnya langsung sumringah, mengambil Po*ky dari tanganya lalu mulai memakanya dengan bahagia.
Taehyung memperhatikan Tata yang sedang makan,
Dia memegang pockynya dengan tangan bulatnya, how?
Dia bisa makan?
Apa alien perlu makanan?
Makanan manusia?
Darimana planet mana dia berasal?
Apa ada banyak alien sepertinya?
Apa maksudnya dengan misi?
Apa dia perlu pup?
Ada banyak pertanyaan dan Taehyung tidak tahu harus mulai darimana, benar-benar kosong seperti otaknya.
Dia hanya mengerti dasar bertahan hidup dan musik.
Dia tidak tahu how to basic ‘saat kau didatangi alien dan alien itu izin tinggal denganmu dan kau tidak bisa menolak karena alien itu menawarkan berlian yg ternyata dijadikan bahan bakar ditempatnya.’
Oh ya dan dia punya misi membagikan kasih sayang yang ternyata kurang dibumi ini.
Taehyung benar – benar bingung.
Dia berpikir, apa yang biasanya dilakukan saat begini? Saat kau benar-benar bingung bahkan saat si Merah menghabiskan Po*kynya dia hanya bisa melongo.
Taehyung perlu bantuan.
Dan dia tahu siapa yang bisa membantunya.
Mengambil hpnya namun jarinya berhenti di tombol call atas nama. “cebol bahenol”
Taehyung tidak ingin menganggu temanya, lagipula bagaimana dia bisa menjelaskan ini semua.
‘si kuntet bakal ngira gua ngisep cat lagi, itupun kalo dia mau dengerin gua ngomong dulu’
Menscroll kebawah mencari nama lain, dia menemukan nama yg membuatnya tersenyum.
KLIK.
.
.
Tata bahagia karena manusianya menerimanya dan sekarang dia memberikan stik pink manis ini.
Dia sedang menuju stik ketiganya saat melihat Taehyung menaruh benda kotak ke telinganya.
“Halo? Hyung?”
Terdengar samar suara dari kotak tipis itu, ada orang-orang kecil didalam kotak itu?
“Ya hyung maaf membangunkanmu tapi aku butuh sedikit pencerahan.”
Manusianya melihat kearahnya.
“Ta?”
[8]
“Bagaimana menurutmu Hyung?” Taehyung selesai menjelaskan apa yang terjadi.
“Oke jadi kau di infiltrasi oleh makhluk kecil yang menghabiskan makananmu, bisa memanjang memendek, memiliki tangan tentakel, punya bakpau melayang yang bisa berbicara, dan menggunakan berlian sebagai bensin?”
“Yap.”
“Dia minta izin tinggal kepadamu karena tempatmu ternyata tempat terbaik untuk alien untuk membagikan kasih sayangnya?”
“Namanya Tata.”
“Of course, alien itu memiliki nama, Tata pula. Apalagi? Dia ternyata reinkarnasi Beethoven?”
“Err..? aku tidak tahu tapi dia sedang makan Pokiku di counter sekarang.”
“..”
“Hyung?”
“Kau tidak pernah mau membagi Pokimu Tae.”
“Hyung itu hanya Poki.”
“LU GAK PERNAH MAU BAGI KE GUA ANJ! BAHKAN SAAT GUA KELAPERAN BANGET PAS JADI PANITIA OSPEK!”
“GUA LAPER HYUNG!”
“EMANG GUA GATAU LU MINTA JATAH 3 KALI SIA KEBO! GUA KAGAK MAKAN DARI PAGI NYED!”
“Y-yah kan gatau Hyung belum makan, emang penting banget? Udah lama ini!”
“Kagak sih! Tapi perlu dicatet jir, Lu tuh gak.pernah.mau bagi poki lu.”
“Iya iya Hyung~ maaf~ aku butuh saran kalau Hyung hanya ingin ngomel-ngomel aku matiin ya?”
Taehyung berkata, melihat Tata yang masih memakan Po*kynya sambil mengetikan sesuatu di bakpaunya yang mengeluarkan cahaya proyektor berbentuk keyboard dan layer, ternyata bakpau itu bisa seperti laptop.
Terdengar helaan nafas dari lawan bicaranya.
“Oke, anggap aku percaya apa yg akan kau lakukan?”
“Mmm, entahlah Hyung mungkin aku beri tahu media sosial atau institut penelitian?”
“RSJ juga sekalian.”
“Heh? Untuk apa?”
“.. Bukan apa-apa, tapi kau yakin ingin mengekspos ini keluar?”
“Iya?”
“Begini Tae, kau tahu kan media sosial bagaimana kalau kau sebarkan ini di internet kau mungkin menjadi viral dengan cepat, tapi pasti ada yang bilang kau pembohong dan lain-lain”
“…”
“Itu dari Medsos, bagaimana kalau ada wartawan yang datang kerumahmu? Dan ternyata membawa orang-orang penelitian? kau dan teman alienmu diambil untuk dikarantina dan dibuka kepalanya untuk diambil otaknya untuk-“
“OKE!, Oke hyung, no mengekspos got it.”
“Aku hanya bilang sejujurnya.”
“Yap hyung terima kasih atas ‘positivisme’nya.”
“Positivisme memangnya beneran kata?”
“Tidak tahu.”
“Finnee Taehyungie, kau butuh apa lagi? Kelasku masih lama dan ini masih malam.”
“Sudah jam 6.15 hyung.”
“Tepat sekali, boleh aku tidur sekarang?”
“Tentu, maaf menganggumu Bogum-hyung.”
“Ne~”
[9]
Taehyung menaruh hpnya di kounter, dia meregangkan badanya sampai terdengar suara ‘krak‘ dari tulang-tulangnya yang kaku.
‘Kenapa gua tidur di sofa padahal gua punya kasur? Asu punggung gua‘ gerutunya seperti kakek-kakek.
Dia melihat jam dinding berada di dapur.
‘6.20’
Lalu melihat ke arah teman barunya yang masih mengetik sesuatu dengan bahasa yang Taehyung tidak mengerti.
Taehyung mengangkat bahunya, dia bilang dia tidak akan menganggu kecuali seperlunya jadi tidak perlu ada acara kenal-kenalan kan?
Taehyung mengambil hpnya dan berjalan kekamar untuk siap-siap pergi ke kampus.
Setelah mandi bebek dia keluar dari kamar mandi dan mencari baju untuk hari ini.
Karena Taehyung jurusan seni jadi dia harus berpakaian bagus, ada perkataan ‘jurusan seni itu fashionya selalu bagus.’
Atau Taehyung yang Fashionista.
Setelah mencari-cari pakaian yang lebih mirip fashion show dadakan karena berapa kali dia mengganti baju seiring bajunya yang menggunung dikasurnya.
Inilah kenapa dia tidak bisa rapi.
Jimin juga protes, tapi Taehyung punya persediaan mochi agar temanya diam.
YOLO.
Setelah memutuskan menggunakan celana sleek hitam dengan shirt putih yang longgar dan fantofel bulu yang harganya bisa untuk membayar sewa apartemennya 3 bulan, dia melihat kaca.
Untuk orang lain outfitnya kali ini biasa saja, bahkan bisa dibilang gembel dengan baju kelonggaran dan bulu di kakinya.
Tapi ini Kim Taehyung yang kita biacarakan, seaneh dan sebodoh apapun KimTae wajahnya jadi tiket pass dimana saja.
Beli teh sisro 5 ribu tapi kurang 4 ribu? Senyumin aja.
Gak sengaja numpahin cat ke kanvas projek orang lain padahal udah ngerjain semingguan? Senyumin aja.
Tugas dosen telat sebulan baru dikumpulin dan ternyata salah bab? Senyumin aja.
Semuanya senyumin aja karena wajahnya, Taehyung bisa ngapain aja dengan mudah.
Skill musik mah cuman tambahan.
Taehyun tahu itu, SANGGAT tahu.
‘Yah mau gimana atuh jadi coghan mah susah, apa-apa gampang.’
.
.
.
Yekali.
Taehyung mengambil tasnya memasukan HP, dompet, pulpen dan isi binder.
Taehyung siap pergi ke kampus.
Mengambil kunci dan pergi keluar kamar, mengunci pintunya dari luar lalu pergi.
Dia lupa dengan temanya yang mendengar suara pintu dikunci dari luar.
“Ta?”
.
.
.
.
[9]
Taehyung menaruh hpnya di kounter, dia meregangkan badanya sampai terdengar suara ‘krak’ dari tulang-tulangnya yang kaku.
‘Kenapa gua tidur di sofa padahal gua punya kasur? Asu punggung gua’ gerutunya seperti kakek-kakek.
Dia melihat jam dinding berada di dapur.
‘6.20’
Lalu melihat ke arah teman barunya yang masih mengetik sesuatu dengan bahasa yang Taehyung tidak mengerti.
Taehyung mengangkat bahunya, dia bilang dia tidak akan menganggu kecuali seperlunya jadi tidak perlu ada acara kenal-kenalan kan?
Taehyung mengambil hpnya dan berjalan kekamar untuk siap-siap pergi ke kampus.
Setelah mandi bebek dia keluar dari kamar mandi dan mencari baju untuk hari ini.
Karena Taehyung jurusan seni jadi dia harus berpakaian bagus, ada perkataan ‘jurusan seni itu fashionya selalu bagus.’
Atau Taehyung yang Fashionista.
Setelah mencari-cari pakaian yang lebih mirip fashion show dadakan karena berapa kali dia mengganti baju seiring bajunya yang menggunung dikasurnya.
Inilah kenapa dia tidak bisa rapi.
Jimin juga protes, tapi Taehyung punya persediaan mochi agar temanya diam.
YOLO
Setelah memutuskan menggunakan celana sleek hitam dengan shirt putih yang longgar dan fantofel bulu yang harganya bisa untuk membayar sewa apartemennya 3 bulan, dia melihat kaca.
Untuk orang lain outfitnya kali ini biasa saja, bahkan bisa dibilang gembel dengan baju kelonggaran dan bulu di kakinya.
Tapi ini Kim Taehyung yang kita biacarakan, seaneh dan sebodoh apapun KimTae wajahnya jadi tiket pass dimana saja.
Beli teh sisro 5 ribu tapi kurang 4 ribu? Senyumin aja.
Gak sengaja numpahin cat ke kanvas projek orang lain padahal udah ngerjain semingguan? Senyumin aja.
Tugas dosen telat sebulan baru dikumpulin dan ternyata salah bab? Senyumin aja.
Semuanya senyumin aja karena wajahnya, Taehyung bisa ngapain aja dengan mudah.
Skill musik mah cuman tambahan.
Taehyun tahu itu, SANGGAT tahu.
‘Yah mau gimana atuh jadi coghan mah susah, apa-apa gampang.’
.
.
.
Yekali.
Taehyung mengambil tasnya memasukan HP, dompet, pulpen dan isi binder.
Taehyung siap pergi ke kampus.
Mengambil kunci dan pergi keluar kamar, mengunci pintunya dari luar lalu pergi.
Dia lupa dengan temanya yang mendengar suara pintu dikunci dari luar.
“Ta?”
.
.
.
[10]
Jimin memutar bola matanya, kadang heran dengan tingkah bocah satu ini
“Eii dengerin dulu, gua pen cerita sakali pan.”
“Yaudah ntar atuh, si duyung dateng noh.”
Taehyung mengalingkan pandanganya ke pintu dan benar ada dosen yang datang.
“Fine, istirahat jan kemana-mana lu.”
“Hooh hooh”
Taehyung menyiapkan isi binder plus pulpenya dan rekaman dari hpnya karena dosenya satu ini terkenal ekspres dan Taehyung itu lemot dia perlu persiapan 2 kali.
“Baiklah, terakhir pertemuan saya suruh kalian memahami bab Tchaikovsky, saya akan membahas sedikit setelah itu kita adakan kuis, ada yang keberatan?”
Hening.
“Baiklah kita lanjutkan.”
Taehyung melihat bukunya atau lebih tepatnya hanya lembaran binder karena dia malas membawa berat-berat jadi apapun dia tulis di kertas dan dimasukin ke bindernya.
Bindernya sih tidak pernah dibawa kecuali memang ada ujian.
Jadi kuis dadakan seperti ini diluar kuasanya.
Kunjungan teman kecilnya juga tidak membantu dia menghafal Chai-chai apa itu.
Jimin menepuk pundaknya, sepertinya dia tahu dan itu tandanya juga dia tidak akan membantunya.
Taehyung menghela nafasnya.
[11]
Setelah satu setengah jam pelajaran yang lebih terasa seperti penyiksaan karena berapa banyak Taehyung mencatat demi setidaknya mengerti apa yang dibicarakan dosenya itu.
Taehyung menyandar ke kursinya, menutup matan dengan lenganya dan menghela nafasnya lelah.
Dia mendengar suara kertas ditaruh dimejanya, dia mengangkat tanganya dan melihat dosenya menatapnya tajam.
“Tuan Kim, apa kau sakit?
“T-tidak pak. Taehyung buru-buru membetulkan posturnya.
Dosenya menatapnya tidak percaya lalu menghela nafasnya “Aku harap kau bisa lulus kuis kali ini, jujur saja kau pasti lelah melihatku di kelas pengganti kan?”
Dosenya menaruh beberapa lembar kertas soal
“Tentu saja tidak sonsae-
“Karena akupun lelah melihatmu terus.
Taehyung diam.
Dosenya tersenyum manis namun matanya sama sekali tidak tersenyum.
“Berusahalah Tuan Kim.”
Lalu dia kembali ke depan.
Taehyung menatap kertasnya.
“Baiklah kalian masih ada sisa waktu 45 menit sebelum kelas ini selesai, gunakan dengan baik.”
Dengan begitu mereka mulai mengerjakan.
Kecuali KimTae yang masih menatap kertasnya nanar.
Taehyung merasakan punggungnya ditepuk kasihan oleh Jimin.
“Liat gua aja tapi nilai mah gak ada garansi.”
Taehyung hanya tersenyum miris, karena walau Jimin sama -hopelessnya tapi dia selalu absen dan tugasnya selalu dikerjakan.
Well, berbeda dengan Taehyung.
Taehyung tidak malas hanya saja dia tidak mengerti kenapa harus mempelajari sejarah musik.
Musik kan tinggal tiup _toet toet.
Kenapa dia harus mengetahui kenapa musik itu dibuat, dari era apapun itulah.
Karena pada akhirnya musik untuk dinikmati bukan untuk dirumitkan dengan segala sejarah yang berakhir dengan kisah cinta orang lain.
Taehyung ini Single, kenapa kisah cinta orang jadi penting untuknya.
Hidupnya sudah cukup rumit karena dia tidak bisa membeli tas Gocci musim lalu padahal itu benar-benar tipenya sekali tapi alas harga-
“Baiklah, waktunya sudah selesai, kalian tinggalkan kertasnya dimeja dan boleh keluar.
Taehyung tersentak kaget.
Dia melihat-melihat sekitar yang sudah mulai berdiri.
Dia melihat temanya yang merapihkan peralatanya walau baru mengerjakan satu soal.
“Mau liat?” Jimin menyodorkan kertasnya sambil menggunakan sweater luaran.
Taehyung buru-buru mengkopas, hanya menambahkan ‘adalah’ agar terlihat berbeda.
Lalu dia ikut berdiri. “Kau yang kumpulkan, kuy.