.
.
.
Jflo_Starlight
.
.
.
[1]
Malam hari yang sepi dengan dingin yang membuat orang enggan keluar dan lebih memilih bersembunyi dibalik selimut yang tebal.
Itu yang diinginkan semua orang saat ini tentu saja tokoh utama kita juga ingin berada di apartemenya hangat, lalu apa yang dia lakukan diluar rumah pada malam hari ini?
Taehyung meniupkan nafasnya ke tanganya berharap setidaknya hangat dari nafasnya menempel ditanganya.
Taehyung adalah pria yang simpel, saat dia mau dia dapat.
Sama seperti sekarang, dia mau makan po*ky tapi tidak ada makanan di apartemenya minus bungkusan-bungkusan takeout yang biasa dia beli.
Jadi apa yang dilakukan Kim Taehyung si pemuda eksentrik yang masuk ke kampus ternama dan bisa dibilang genius saat dia bermain instrumen musiknya?
Kata kuncinya, dia genius saat bermain instrumen musik, Saat.
Jadi inilah Kim Taehyung diluar pada jam sebelas malam membeli Po*ky (dan apapun yang dia anggap menarik)
Dia sehabis pulang dari jam kelas full? Masih ada tugas dari dosenya? besok ada kelas pagi?
‘Sabodo yang penting mah aing makan poki.’
[2]
Setelah beberapa kali meniup tanganya dan tanganya masih tetap seperti es, dia memasukan tanganya ke kantong jaketnya.
Karena dia sehabis mandi lapar, dia langsung memakai jaket apapun yang ada di gantungan tanpa memakai shirt atau sweater tambahan.
Beruntungnya dia selain dia keluar sambil bisa dibilang telanjang, jaketnya pun tipis pula.
Saat tangan esnya masuk ke kantong dan kain kantong itu menyentuh perutnya dia berteriak kecil seperti perempuan.
Untungnya dijalanan itu sepi sehingga Taehyung tak perlu memikirkan harga diri.
Itupun kalau dia masih punya.
‘Dingin banget gila! gua perlu kehangatan please, ide siapa sih beli poki tengah malem anjay.’ Pikirnya kesal.
Dia menggerutu kesal sambil bejalan kerumahnya yang ada didaerah tinggi dan bisa dibilang jauh dari kota utama.
“Meow~”
Taehyung menoleh ke sumber suara, melihat kucing hitam dengan bagian putih di kakinya sedang menjilati badanya sendiri.
Taehyun berhenti dan diam.
Kucing itu masih menjilati badanya sekarang beralih ke perut.
.
.
“Hai Kuciiing~” Taehyung mendekati kucing itu.
“MROOOOWW!”
Belum selangkah lebih dekat kucing itu menggeram galak dan lari dari situ, meninggalkan Taehyung yang diam dengan tangan yang terulur.
“fak.”
Melanjutkan hidupnya Taehyung kembali berjalan, BERUSAHA tidak merasa sakit atas aksi si kucing.
Alas, Taehyung melankolis jadi dia baper karena kucing tadi.
Apa yang dilakukan saat baper?
Curhat.
Ke siapa biasanya ABG curhat?
Ke Besplenya.
Menekan kontak dengan nama Cebol Bahenol, Taehyung menaruh handphonenya di telinga.
Nada ringtone yang dia familiar (yang dia paksa pasang) berbunyi membuatnya ikut bergumam mengikuti lirik yang dia hafal lebih dari pelajaran.
Lalu ringtonenya berhenti dengan suara klik.
“Oiii~ Jimin-ssi kau-“
“Gua lagi tidur jinc lu mau apa?”
“…Emm-“
“Lama, lu.mau.apa?”
“Tadi ada kucing-”
KLIK
Taehyung menatap handphonenya yang berwarna merah.
“fak.”
[3]
Setelah 10 menit berjalan, kedinginan dan sendirian akhirnya Taehyung sampai dirumah.
Menghela nafas lega dia mengambil kunci apartemenya dan memasukan ke lubang kunci lalu memutarnya ke kanan.
Hanya saja kunci tidak bergerak atau bersuara ‘KLEK’ seperti biasa.
‘Gua capek ampun jangan ada acara kunci macet dah.’
Dia menekan paksa ke kanan, dikeluarkan dan dimasukan kembali tapi kunci itu masih tidak bergeming.
Taehyung menghela nafas kasar, dia memasukan handphonenya ke kantong jaket dan melepaskan plastic jajananya ke lantai.
Lalu mulai membolak-balikan kuncinya.
Dan kuncinya berbunyi.
Hanya saja bukan kearah kanan.
Tapi kearah kiri yang berarti mengunci.
Yang berarti pula tadi pintunya tidak terkunci.
Taehyung itu banyak hal kecuali teledor akan barang pemberian orang tuanya.
Walau Taehyung punya prinsip ‘I Want It I Got It.’ Tapi dia selalu memakai uang sendiri atau melakukan sesuatu sendiriagar tidak menyusahkan orang tuanya.
Orang tuanya pernah memberinya jaket merah bermerk saat dia SMA dan sampai sekarang kondisi jaket itu masih bersih.
Sekarang orang tuanya memberinya apartemen.
Kemungkinan Taehyung lupa mengunci apartemenya itu 0.25 persen.
Yang artinya terjadi sekali tiap bulan biru.
Taehyung menatap pintunya waswas, pikiranya mencoba rasional bahwa lupa itu manusiawi kok tapi instingnya berteriak-teriak tidak.
‘Tenang-tenang, mana mungkin ada yang mau ngerampok rumah dusun gua.’
Lalu Taehyung membuka pintunya -SALAH- mendobrak pintunya.
Dia mendengar suara klontang dari arah dapur.
Taehyung langsung mengambil payung di samping rak sepatu yang sepatunya jatuh berantakan.
‘Shet shet shet, kenapa gua sok-sokan dobrak pintu wakwau.’
Dia menaikan payungnya seperti pemain baseball, berjalan melewati lorong kecil yang menyambungkannya ruang tamunya bercampur dengan dapur.
Taehyung menatap aneh noda-noda kotor yang mengotori lantainya.
‘Plis dah gua baru bersihin lantai kemaren jorok amat nih orang.’ Pikirnya.
Dia berjalan perlahan, melongok kearah ruang tamu dan melihat plastik-plastik takeout berserakan dilantai menuju dapur.
Taehyung meneguk ludahnya kasar, dia berjalan menyebrangi ruang tamu sambil melongkapi plastic yang berserakan.
Sampai dia di counter dapurnya dia menunduk, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan .
Dia bisa mendengar suara orang mengunyah lalu berhenti yang membuat Taehyung menahan nafasnya, hanya untuk mendengar seperti box yang dibuka dan kunyahan itu kembali terdengar.
‘Setdah nih orang laper apa apa? Makan makanin bekas takeoutan orang, kali aja udah ada yang basi.’
Taehyung menghela nafasnya pelan sekali agar tidak bersuara, memikirkan rencana yang akan dia eksekusi sekaligus kata-kata terakhir kalau-kalau dia mati dimakan oleh orang kelaparan yang menghabiskan makanan sisanya dan mengotori apartemenya.
‘Oke gua siap! Mama Papa maapin Tae ya kalau pernah nakal, Jimin maapin gua yang sering nistain tinggi lu tapi aslinya lu emang kuntet kok, kalau Tae mati kalian boleh ambil sisa rekening Tae walau cuman ada gocap tapi itu tetep duit kok. Perpel yu <3’
Taehyung nulis itu di handphonenya.
Memasukan HPnya ke kantong dia memegang erat senjatanya, bergeser ke counter ujung yang merupakan jalan masuk ke dapur.
Helaan nafas terakhir, dia memejamkan matanya dan berteriak lalu mengayunkan payungnya.
Hanya saja ayunanya tertahan.